Select Page

Evolusi Teori Manajemen – Berdasarkan titik pangkal analisisnya cara pandang tentang  teori manajemen dapat dikelompokkan menjadi dua  Evolusi Teori Manajemen yaitu analisis institusional dan analisis aksi sosial. Analisis institusional yang bertolak dari ‘organisasi’ telah melahirkan cara pandang instrumental. Hal ini memang sesuai dengan istilah ‘organisasi’ yang berasal dari kata organon yang artinya alat sesuai pemahaman Evolusi Teori Manajemen.

Cara pandang instrumental melihat ‘organisasi’ sebagai alat untuk mencapai tujuan bersama. Pemikir- pemikir dalam kelompok cara pandang instrumental berusaha menginvestigasi ‘apa yang dilakukan anggota organisasi dalam kehidupan organisasinya dan mencoba menciptakan resep-resep bagi manajer untuk menjalankan organisasi dalam mencapai tujuannya’.

Evolusi Teori Manajemen vs diskursus dalam cara pandang instrumental

Diskursus dalam cara pandang instrumental selalu berkaitan dengan “what managers should do in the organization”, karena bertolak dari ‘organisasi’, pemikir dalam cara pandang instrumental menggunakan asumsi bahwa organisasi sudah ada sebelum aksi anggotanya (pre- existent), tidak tergantung, bebas, dan bukan produk dari aksi anggotanya. Cara pandang ini melihat atau berasumsi bahwa aksi manajer bersifat netral, rasional, dapat direncanakan, dan bebas dari kepentingan individu manajer.  Dalam kelompok cara pandang instrumental meliputi beberapa subkelompok teori yang membentuk ‘spektrum’ yang sangat luas3  misalnya, telah membagi cara pandang instrumental ini ke dalam 25 jenis cara pandang (teori).

 

Namun demikian, dalam rangka memudahkan pemetaan dan pemahaman , tulisan Evolusi Teori Manajemen ini membagi cara pandang instrumental ke dalam empat kelompok besar teori, yaitu teori manajemen klasik (rasional), manajemen kemanusiaan (human relation theories), manajemen sistem organik, dan manajemen kontijensi.   Disiplin ilmu yang mendukung kelompok cara pandang ini adalah management science, administrasi, ekonomi, psikologi, matematik, statistik, dan disiplin lainnya dalam kelompok ‘ilmu objektif’. Sebagian besar diskursus ilmu-ilmu manajemen yang diajarkan masuk dalam kategori ini. Selanjutnya pembahasan tentang cara pandang instrumental ini akan diuraikan pada subjudul tersendiri.

axioma terbalik Evolusi Teori Manajemen

Evolusi Teori Manajemen Dengan menggunakan axioma terbalik seperti teka-teki mana yang lebih dahulu: ayam atau telur. Pemikiran aksi sosial mengawali analisisnya bukan bertolak dari ‘organisasi’ tapi bertolak dari ‘aksi sosial’ dari para aktor yang terlibat dalam organisasi. Pemikir kelompok ini menganalogikan organisasi seperti ‘kelompok sosial’, yaitu ‘struktur’ pola interaksi perilaku antaraktor dalam kelompok sosial didasari pada tujuan individu dan bukan tujuan kelompok.

Pemikir dalam kelompok ini berpegang pada proposisi bahwa organisasi tidak bisa terlepas, tidak bebas, dan merupakan produk dari aksi sosial para aktor yang terlibat. Maka dari itu, investigasi lebih diarahkan kepada ‘apa yang dilakukan oleh masing-masing aktor dalam membingkai perilakunya untuk membentuk organisasi (getting organized)’.

Berbeda dengan cara pandang instrumental, diskursus dalam cara pandang aksi sosial berkaitan dengan “what the actors really do in the organization”. Cara pandang ini melihat aksi manajer dan aktor lain anggota organisasi tidak netral, tidak rasional, politis, dan tidak bebas dari kepentingan para aktornya.  Dalam kelompok cara pandang aksi sosial sedikitnya terdapat dua subkelompok teori yaitu teori manajemen budaya (simbolik) dan manajemen politik. Disiplin ilmu yang menopang cara pandang ini adalah sosiologi, anthropologi, politik, dan disiplin lainya yang sifatnya ‘ilmu interpretatif’ sebagaimana sering dibedakan dengan kelompok ilmu obyektif.

Berbeda dengan cara pandang instrumental yang mendominasi diskursus ilmu manajemen, cara pandang aksi sosial hanya mewakili sebagian kecil diskursus ilmu manajemen. Kalau kita melihat sejarah perkembangan teori manajemen mulai dari teori klasik, teori kemanusiaan, teori sistem organik, teori kontijensi, teori budaya, dan akhirnya teori politik, tampaknya telah terjadi proses ‘evolusi’ dari satu teori ke teori lainnya. Dapat dikatakan sebagai proses evolusi karena teori yang muncul berikutnya merupakan respon ketidakpuasan terhadap teori sebelumnya.

 

respon ketidakpuasan resep manajemen klasik vs  Evolusi Teori Manajemen

Sebagai contoh, munculnya teori kemanusiaan dalam teori manajemen merupakan respon ketidakpuasan terhadap resep-resep manajemen klasik yang terlalu teknikal dan  depersonalized. Rupanya proses Evolusi Teori Manajemen ini terus berlangsung sampai sekarang dalam upaya mendapatkan pemahaman dan praktik yang tepat tentang manajemen. Morgan menyatakan bahwa orang melihat apa itu organisasi dan apa itu manajemen bagaikan sekelompok orang buta yang mencoba memahami gajah dengan cara meraba.

 

Evolusi Teori Manajemen memahami bahwa masing-masing orang tentu akan memaknai gajah sesuai dengan bagian mana dari tubuh gajah yang berhasil dirabanya. Elaborasi bermacam teori manajemen adalah analog dengan fenomena orang buta ini. Masing-masing teori manajemen dikembangkan dengan pendekatan ‘metafora’ atau ‘teropong’. Kelebihan metafora adalah mampu melihat sesuatu yang kompleks menjadi sederhana dan detail bahkan cenderung melebih- lebihkan, tetapi kehilangan kemampuannya untuk melihat sesuatu secara ‘utuh’. Untuk itulah, Morgan mengingatkan kepada praktisi manajemen agar tidak terpaku dan terjebak pada salah satu ‘tool’ manajemen supaya tidak mengalami stagnasi dan frustasi dalam praktik manajemen.

 

sumber: JURNAL MANAJEMEN PELAYANAN KESEHATAN, Siswanto,Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan,Departemen Kesehatan Republik Indonesia, Surabaya