Select Page

Menimbang UTHB – Memang, Hanya Allah Yang Mahasempurna dalam ilmu serta penciptaan. Apapun yang kemudian dikreasikan oleh ciptaanNya, pasti memiliki sisi positif  dan negatif. Tidak terkecuali acara UTHB (umat terbaik hidup berkah) yang dipelopori oleh Ust. Samsul Arifin.

 

Hanya Allah Yang Mahasempurna dalam ilmu serta penciptaan

Pada kesempatan kali ini, saya selaku salah satu peserta pelatihan atau seminar uthb semarang, bermaksud curhat. Ya akan halnya beberapa point yang aku pikir kurang pas selama penyelenggaraan seminar UTHB. Mari kita diskusikan.

Positif negatif UTHB tetap ada

Sisi positif UTHB, beberapa waktu yang lalu sudah saya tulis di sini dan di sini, nah setelah itu aku juga mencatat sisi negatifnya, menurutku antara lain:

  1. UTHB Terlalu berani (pasnya lancang) secara bebas menggunakan LABEL AHLI SORGA dan AHLI NERAKA.
  2. Katanya umat yang berkah kog isinya musik nge-beat dan pake acara jingkrak-jingkrak dalam seminat UTHB.
  3. Simulasi ‘suasana’ SORGA dan NERAKA ala UTHB yang berlebihan
  4. Terlalu mengsubordinatkan audience UTHB (macem audience bodoh aja dan jurus pembicara pasti tepat dan selalunya lebih pas).

Deskripsi sisi negatif dan masukan seminar UTHB

UTHB “Terlalu berani (pasnya lancang) secara bebas menggunakan LABEL AHLI SORGA dan AHLI NERAKA”. Padahal, para ulama sangat berhati-hati menggunakan label yang sangat berkaitan dengan bahasa akhirat, bahasa akidah, bahasa alam ghoib yang jelas-jelas hanya berasal dari perintah Allah dan RasulNya saja haqqul yakin bisa tahu.

Namun dalam pelaksanaan UTHB, Pemateri ataupun kadang pendamping Pemateri, sampai MCnya kadang secara “liar” menggunakan label-label, ini surga, ini neraka, ini ahli sorga, ini ahli neraka. Mbatinku, “enakmen ngecap sono, ngecap sini”. Padahal ada hadist yang jelas-jelas mengatakan bahkan orang-orang yang sudah mengamalkan banyak amalan-amalan ahli neraka dan dia sudah sangat hampir bisa dipastikan masuk neraka, namun Allah memutuskan dirinya masuk surga,maka dianya menjadi ahli sorga. Begitu juga sebaliknya.

Saranku: UTHB, Ganti lah, pakai bahasa-bahasa lain kalau mau pakai pemisalan atau pengibaratan atau pengistilahan, jangan yang sangat-sangat sensitif berkaitan dengan bahasan akidah islam.

Sisi negatif ke dua dalam UTHB, Umat berkah kog musikan jingkrak-jingkrak begitu

“Katanya umat yang berkah kog isinya musik nge-beat dan pake acara jingkrak-jingkrak”. Secara esensial hakikat belajar UTHBnya saya paham, saya dari psikologi, saya mengerti mengapa menggunakan teknik ini. Namun, labelnya sudah label islami, bawa-bawa nama berkah lagi. La, apa ada keberkahan dalam sebuah majelis UTHB yang isinya pake musik jingkrak-jingkrak begitu? Sekalipun sya’irnya-sya’ir nasheedmya berisi lirik-lirik islami.

Ragu saya, pake model musik jingkrak-jingkrak gitu, pesertanya diajak jingkrak-jingkrak, mulut para peserta maupun fasilitator UTHBnya masih bisa tetap basah melafalkan dzikrullah? Masih ada rasa tenggang rasa dengan derita kaum muslimin di Libya yang tengah berlumur darah di jajah Amerika, Nato, PBB dan sekutunya yang la’natullah’alaih?

Saranku: Katanya training kelas dunia, pembicaranya UTHB kelas dunia, opo yo gak iso merumuskan konsep para pesertanya bisa tetap fokus, semangat, tanpa pakai perkara-perkara syubhat (bahkan banyak ulama menjelaskan keharaman musik) semacam itu? Aku yakin ada caranya.

Simulasi surga dan neraka dalam UTHB

Simulasi ‘suasana’ SORGA dan NERAKA UTHB yang berlebihan (baca: LEBAY). Lagi-lagi disini Aqidah Ustadz Samsul Arifin pantas dipertanyakan. Salah satu sesi UTHB dibuat semacam simulasi kematian, alam kubur, bahkan sampai sorga dan neraka. Pemateri UTHB menampilkan ‘simulasi’ hal-hal yang benar-benar berkaitan erat dengan bahasan aqidah itu dengan seni pidatonya, tata cahaya, efek sound musik, tampilan audio visual yang telah didesign sedemikian rupa.

purpose of life visi misi UTHB hidup manusia musafir gambar

Antara Sisi Positif dan Negatif

Memang sih, dalam sesi UTHB menampilkan ‘icip-icip’ masalah dunia ghoib ini, para peserta banyak yang larut dalam tangis sebab menyadari dosa-dosanya. Saya juga sempat ikut terharu saat surprise dapet kado kain mori (tiap peserta dapet). Namun, sungguh kesan, cara-cara penyampaian, konten isi, dan bahkan dari design acara UTHBnya sangat tidak bersesuaian dengan keterangan Nabi shalallahu alaihi wa salam dalam hadist Qudsi,

Allah berfirman dalam hadist Qudsi, ‘Untuk hamba-hambaKu yang shaleh, Aku sediakan kesenangan-kesenangan yang tak pernah terlihat oleh mata, tak pernah terdengar oleh telinga, dan tak pernah sedikitpun TERLINTAS DALAM HATI MANUSIA” (HR. Syaikhani, Ahmad, Turmudzi, Ibnu Majah bersumber dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu).

La UTHB sangat PDnya mengsimulasikan sebuah ganjaran surga dengan mengajak pesertanya melakukan teknik relaksasi. Atau mengajak ‘tamasya’ neraka bermodalkan design acara training full audio visual. Allahu Akbar, sekalipun dengan bahasa, “ya ini perumpamaan atau yang semacamnya” tetap kelancangan semacam ini tidak bisa dibenarkan dalam tinjauan Aqidah islam. Rasulullah tak pernah ajarkan merenungi surga dan neraka dengan cara-cara begitu, para sahabat juga, sampai para tabiut tabiin yang dalam petunjuk Allah mendakwahkannya kepada Umat.

Saranku: Gak usah lebai begitu deh UTHB, sampai tahap muhasabah dosa bagi personal saja insyallah sudah cukup. Lalu bisa dilanjut membuat komitmen bertaubat.

UTHB seakan paling ngerti dan benar sendiri

Terlalu mengsubordinatkan audience / peserta UTHB. Maksudnya, kurang rendah hati. Ya macem audience ‘bodoh aja’ dan jurus pembicara pasti tepat dan selalunya lebih pas diterapkan pada masing-masing orang. Memangnya sudah didasarkan pada data penelitian yang benar-benar faktual. Wong kadang yang sudah didukung riset ilmiah maupun riset empiris saja tidak selalunya tepat, ini yang dasarnya belum begitu jelas kog seakan haqqul yakin kebenarannya.

Saranku: UTHB Akan lebih bijak manakala menggunakan bahasa-bahasa yang lebih santun, mengerti adat ketimuran, bahwa anda sharing pengalaman anda dalam mengatasi begini dan begitu, eh berhasil. Maka saya simpulkan, barangkali anda mengalami hal yang sama kiranya bisa berlaku dan sukses juga. Atau semacamnya, bagi beliau dan tim yang sudah berbicara 10.000 jam saya percaya bisa tahu cara yang lebih tepat.

Ya itu sih beberapa sisi negatif  UTHB yang aku ingat dan sempat aku cermati saat aku mengikuti training UTHB gratis bersama ustadz Samsul Arifin di Semarang. Saya berharap sebuah cita-cita yang diniatkan baik bisa juga diselaraskan dengan takaran nilai ‘norma baik’ dalam tinjauan syari’ah. Jangan sampai nunggu dewan syariah memfatwakan sesat macem kasusnya ESQ Ari Ginanjar, baru mulai ada perbaikan. Adapun saran dari saya, ya itu masukan dari saya selaku customer, semoga bisa jadi masukan konstruktif ke depannya. Wallahu’alam and see you on Anjrah In My Mind selanjutnya.

Baca juga: menentukan purpose of life dalam hidup

Topik Diskusi:

cara samsul arifin melipatgandakan uang , ust samsul arifin