Sisi lain Mauludan Yang Jarang Di Pahami

Maulud alias mauludan, saya yakin banyak yang sudah mengenal istilah itu. Ya, malam peringatan hari kelahiran nabi Muhammad Shalallahu a’laihi wa salam. Pada sebagian masyarakat perayaan mauludan sudah sangat dipersiapkan. Bahkan menghabiskan biaya yang tidak sedikit. Jauh jauh hari sudah di planingkan acara A, acara B, materi acaranya itu sampai urusan cateringnya.

Pas hari H acara biasanya dibentuk dalam format acara pengajian bersama lalu ada momen membaca shalawat bersama atau pada beberapa daerah ada variasi dengan acara khatam al qur’an. Banyak format tiap daerah punya seni penghayatan yang berbeda. Semua didasari dengan itikad baik, sebagai sarana ‘ungkapan cinta kepada Rasulullah shalallahu alaihi wa salam. Namun, apakah benar demikian? atau malah moment itu adalah moment yang menyakiti Nabi?

Malam Maulid nabi bukan cara yang benar membuktikan cinta kepada Rasulullah

Syaikh ‘Abdul ‘Aziz Alu Syaikh (ulama besar dari Saudi) menjelaskan tanggapan beliau mengenai perayaan maulid nabi dan bagaimana kaidah sebenarnya yang benar kalau kita mencintai nabi  dalam petikan ceramah berikut:

Dijelaskan oleh syaikh bahwa, “bukan dengan cara cara perayaan yang seperti hari ini dilakukan oleh masyarakat. Para sahabat paling mengerti cara mencintai nabi, mereka pun teramat dalam mencintai nabi melebihi kecintaan terhadap diri maupun kepada anak atau hartanya tidak pernah melakukan metode perayaan seperti yang kita kenal sekarang. Sahabat Abu bakar, Umar, Ustman, sampai Ali tidak melakukannya “.  Dan Kalaulah memang itu baik, para sahabat lainnya juga adalah orang yang pertama yang melakukannya.

Lebih parahnya lain, sisi lain mauludan yang katanya untuk mencintai nabi, malah mengamalkan perbuatan yang berlebihan yang tidak disukai nabi. Bagaimana mereka membacakan barzanji yang isinya banyak dengan kesesatan serta syair yang berlebihan di sandangkan kepada Nabi (lihat penjelasan di sini). Malamnya pengajian sampai hampir subuh eh malah tidak menjalankan amalan yang dituntunkan nabi yakni shalat subuh berjamaah di masjid. Katanya cinta, mengapa amalan suruhannya nggak dilakukan?

Sisi lain Mauludan Yang Demikian Memperihatinkan

Perayaan mauludan juga sudah ditentang oleh para habaib yang alhamdulillah masih lurus dalam petunjuk Sunnah Rasulullah. Simak Kalangan Habaib Serukan untuk Tidak Merayakan Maulid Nabi yang mengajak sesama ahlul bait anak keturunan yang masih memiliki ‘jalur darah’ nabi kembali ke jalan sunnah serta menjauhi acara bid’ah perayaan maulid nabi ( baca juga Sejarah Lahirnya Perayaan Maulid Nabi).

Jajaran Ulama dari kalangan Habaib menyerukan Ahlul Bait Rasulullah untuk tidak memperturuti hawa nafsu mereka. Karena Perayaan yang mereka sebut dengan “Maulid Nabi” dengan dalih “Cinta Rasul”, dan berbagai acara yang menyelisihi syari’at, yang secara khusus dimeriahkan/ diperingati oleh sebagian anak keturunan Nabi yang mulia ini jelas merupakan sebuah penyimpangan, dan tidak sesuai dengan “Maqasidu asy-Syar’i al-Muthahhar” (tujuan-tujuan syariat yang suci) untuk menjadikan ittiba’ (mengikuti) kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam sebagai standar utama yang dijadikan rujukan oleh seluruh manusia dalam segala sikap dan perbuatan (ibadah) mereka.

Dalam sebuah pernyataan yang dilansir “Islam Today,” para Habaib berkata, “Bahwa Kewajiban Ahlul Bait (Keturunan Rasulullah) adalah hendaklah mereka menjadi orang yang paling mulia dalam mengikuti Sunnah Beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam, mengikuti petunjuknya, dan wajib atas mereka untuk merealisasikan cinta yang sebenarnya (terhadap beliau shallallahu ‘alaihi wasallam, red.), serta menjadi manusia yang paling menjauhi hawa nafsu. Karena Syari’at Islam datang untuk menyelisihi penyeru hawa nafsu, sedangkan cinta yang hakiki pasti akan menyeru “Ittiba’ yang benar”.

 

Oleh karena itu, kami berharap sedikit artikel nasehat “Sisi lain Mauludan” itu bisa membuka hikmah pembaca sekalian. Bahwa di dalam acara perayaan yang dikesankan sebagai acara yang merupakan wujud cinta kepada nabi, malah merupakan acara yang dibenci nabi ‘bahkan melukai’ beliau Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa salam. Nabi katakan bahwa agama ini sudah sempurna, sudah semua ajaran yang di amanahkan kepada Rasul, sudah beliau ajarkan. Nggak usahlah bikin acara -acara modifikasi lagi lalu menganggap itu sebagai cara mencintai nabi. Cintailah nabi Sesuai yang sudah beliau ajarkan, itu baru benar benar mengamalkan apa yang dimaksud mencintai Rasulullah dengan sebenarnya.

 

 

Ada Ide Berkaitan dengan Postingan di Atas?