Pandai Menulis Artikel, Bawaan atau Karena belajar?

Menulis Artikel – Datang ungkapan yang berasal dari salah satu teman baikku saat aku ajak belajar lebih serius di dunia blog. Dia mengatakan bahwa, “Ya kamu karuan saja seneng ngeblog wong kamu dah pinter Menulis Artikel“.

Wah,, ni pernyataan sih bahasanya lumayan lugu dan kesannya wajar-wajar saja. Namun saya sebenarnya SUNGGUH TERSINGGUNG.

Why? tuduhan terhadap skill Menulis Artikel menyinggung saya?

Bagaimana tidak. Kalimat “Ya kamu karuan saja seneng ngeblog wong kamu pinter Menulis Artikel” pada paragraf awal tadi menyiratkan ada faktor keajaiban alias faktor terima jadi bahwa saya seneng ngeblog dan bikin artikel-artikel di blog sebab saya sudah dari sononya alias bawaan orok sudah bisa ngeblog dan bikin artikel. he ehm… sungguh sangat ‘lancang’.

apa dia tidak lihat gimana saya melatih Menulis Artikel sejak tahun 2007nan?

apa dia tidak lihat gimana saya memperbanyak membaca buku dan artike artikel online di internet agar sekedar dapat ide Menulis Artikel?

apa dia tidak tahu saya harus membaca beberapa buku tentang bagaimana caraMenulis Artikel sampai…

apa dia tidak ngerti bahwa saya juga mendatangi seminar-seminat jurnalistik dan pelatihan menulis agar sekeda muncul kepercayaan diri bahwa saya bisaMenulis Artikel?

Huuuuuuhm,,,,

Tersinggung saya. Kog bisa-bisanya beliau mengungkapkan kalimat yang seakan meniadakan perdjoeangankoe untuk bisa Menulis Artikel demi artikel. Tapi yo ndak popolah. Ben lebih Asyik, mari kita bahas aja.

 

Menulis Artikel Pintar  itu sebab faktor bawaan atau belajar?

Untuk menjawab pertanyaan ini, bagi anda yang kuliah di psikologi saya sarankan untuk membuka kembali bukunya Prof Bimo Walgito yang judulnya Psikologi Umum. Prof Bimo menerangkan di situ bahwa pertanyaan mengenai ketrampilan manusia itu [termasuk skill Menulis Artikel] berasal dari bawaan ataupun turunan adalah pertanyaan yang jawabanya hingga sekarang sulit di damaikan. Sebab keduanya mempunyai argumentasi yang sama kuatnya, juga punya kelemahan masing-masing.

Yang bilang menulis itu sebab faktor bawaan (nature) ya ada benernya. Konkretnya kita temukan di dunia ini ada orang yang ayahnya seorang penulis, anaknya jadi seorang penulis. Teori nature menyakini bahwa bisanya seseorang menulis ya karena ada gen nulis dari jalur keluarganya.

Efek negatif orang yang ‘menuhankan teori nature‘ jelas mampu mendorong orang ke arah pesimisme bahwa mentang-mentang ayahnya bukan penulis, dia nggak bisa Menulis Artikel atau bahkan sekedar untuk mencoba menulis saja tidak PD. Padahal aslinya, berapa banyak penulis yang orangtuanya bahkan kakek buyutnya bukan penulis, bisa menjadi penulis yang sukses dengan Menulis Artikel yang berbobot.

Sekarang kita cari tahu penganut teori lingkungan/belajar atau nurture. Dedengkotnya itu mbah Jhon Lock. Kata dia, “Manusia lahir bak selembar kertas putih. tinggal suka-suka lingkungan yang kelak menuliskan apa di atasnya”.

 

Menulis Artikel versi nurture

He ehm,, kliatanya filosofis sekali mbah Jhon iki. Padahal apa iya manusia lahir bak selembar kertas putih yang bersih? ibarat laptop, kayaknya yang dimaksud itu laptop dalam kondisi kosong belum ada OS (operating System) atau malah belum ada BIOSnya. Bersih, putih tanpa ada apa-apanya. Padahal, nek yang menanut agama islam, sudah selayaknya tidak meyakini kata-kata mbah Jhon seratus persen. Seorang muslim meyakini bahwa dirinya lahir ke bumi sudah langsung built in dengan adanya fitroh di qalbunya.

Fitroh ini ya bahasanya teknologi super canggih semacam sofware super akurat kala dia bekerja baik bisa menjadi radar sekaligus scanner bagi suatu amalan, niat, perilaku, yang baik ataupun buruk yang dilakukan manusia. Jadi, ya ndak ada istilah manusia lahir dalam keadaan kosong mlompong, yang tepat manusia lahir sudah ada ‘isi’nya. Eh lah,, malah jadi bahasan psikologi islami nih.

Back to topic, ya menurut aliran nurture, semua bisa diajari. Semua bisa dibentuk. Semua bisa diciptakan sebagai seorang penulis atau menjadi manusia yang pandai Menulis Artikel. Namun, unsur eksternallah yang membentuknya, bukan faktor genetis sebagaimana diyakini penganut teori nature.

La trus piye kejelasan teori yang membahas Menulis Artikel apa?

Yang pas menurutku ya para penganut aliran konvergensi. Ni aliran cinta damai, alias aliran yang mensinergikan dua pendapat pendahulunya. Dia tidak menyalahkan penganut teori nature wong aslinya juga tenanan ada gen yang menurun dari orang tua ke anak-anaknya. Penemuan terbaru di bidang biomolekuler salah satunya pada tema-tema kajian Kromosom dan telaah DNA telah membahas tuntas kaidah penurunan genetik ini.

Di sisi lain, penganut teori konvergensi juga setuju bahwa lingkungan dan faktor belajar juga penting. Terlihat sekali ya ndak usah jauh-jauh, saat ada ujian atau ulangan mata pelajaran tertentu. Mahasiswa yang belajar atau tidak belajar, secara normal, akan memiliki hasil nilai IPK yang berbeda secara signifikan. Logisnya, mereka yang belajar mendapatkan skor yang lebih baik daripada yang tidak belajar begitu juga Menulis Artikel.

Atau ya, kita merenung sebentar. Saat kita kecil, kita belum mengerti gimana cara berinteraksi melalui facebook atau sekedar menulis status di web milik yahudi itu. Tapi dengan belajar, kita jadi tau, jadi ngerti, dan memahaminya.

So, pandai Menulis Artikel faktor bawaan atau karena belajar?? Anda saya yakin sudah bisa mengambil kesimpulan. Salam Mantap Jaia selalu dari Prembun :D.

Ada Ide Berkaitan dengan Postingan di Atas?