Select Page

ideologi pacaran – “Anda pacaran, Anda ganti tuhan uraian ideologi pacaran ” merupakan salah satu tulisanku yang dulunya pernah aku post di facebook dan mendapatkan respon yang cukup kontroversial. But, apapun itu, ini ilmu, saya sampaikan. Semoga bermanfaat.

Aku mulakan diskusi ideologi pacaran pada hari ini dengan sebuah kisah ‘protesnya’ salah seorang sahabat nabi bernama Adi bin Hatim Radhiyallahu’an kepada Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasalam. Diriwayatkan dari ‘Ady bin Hatim bahwa ia mendengar Rasulullah s.a.w. membaca firman Allah s.w.t., “Mereka menjadikan orang-orang alim dan rahib rahib mereka sebagai tuhan-tuhan selain Allah…” (QS. Al Taubah: 31).

Maka saya (‘Ady bin Hatim) berkata kepada beliau, “Sungguh kami tidaklah menyembah mereka”, beliau bersabda,”Tidakkah mereka mengharamkan apa yang telah dihalalkan Allah, lalu kalian pun mengaharamkanya, dan tidakkah mereka itu menghalalkan apa yang diharamkan Allah, lalu kalian menghalalkannya?”, Aku menjawab, “ya”. Maka beliau bersabda, “itulah bentuk penyembahan kepada mereka.” (HR. Imam Ahmad dan At Tirmidzi dengan menyatakan hasan)

اتَّخَذُواْ أَحْبَارَهُمْ وَرُهْبَانَهُمْ أَرْبَاباً مِّن دُونِ اللّهِ وَالْمَسِيحَ ابْنَ مَرْيَمَ وَمَا أُمِرُواْ إِلاَّ لِيَعْبُدُواْ إِلَـهاً وَاحِداً لاَّ إِلَـهَ إِلاَّ هُوَ سُبْحَانَهُ عَمَّا يُشْرِكُونَ

artinya, “Mereka menjadikan orang-orang alimnya dan rahib-rahib mereka sebagai tuhan selain Allah dan (juga mereka mempertuhankan) Al Masih putera Maryam, padahal mereka hanya disuruh menyembah Tuhan yang Esa, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia. Maha suci Allah dari apa yang mereka persekutukan” (QS. Al Taubah: 31).

Asbabul wurudnya (sebab-sebab keluarnya hadist) adalah pada hari itu ‘Ady bin Hatim mendatangi Rasulullah saw atas rekomendasi saudara perempuannya yang telah terlebih dahulu masuk islam. Rasulullah saw melihat ‘Ady bin Hatim yang ketika datang masih beragama nasrani dan masih menggunakan kalung salib di dadanya, kemudian beliau membacakan QS. Al Taubah: 31 di atas.

ideologi pacaran dibahas dari sebuah hikmah kisah sahabat Ady bin Hatim

Ketika ‘Ady bin Hatim mendengar bacaan ayat qur’an, dia paham bahwa bacaan ayat Qur’an yang mulia itu ditujukan kepadanya. Kontan ‘Ady bin Hatim pun protes dengan keterangan yang disampaikan oleh Rasulullah saw sebab dalam cara berpikir dia, dia selama ini dalam agamanya (nasrani) tidak pernah menyembah orang alim atau rahib-rahib mereka. Pada hadist di atas ‘Ady bin Hatim mengatakan, “Sungguh kami tidaklah menyembah mereka”.

Rasulullah saw kemudian dengan tenang, santun, dan menggunakan metodologi pembelajaran terbaik (memberikan pembelajaran dengan bertanya balik) menjelaskan, bahwa makna penyembahan ternyata lebih luas. Bukan dimaknai dalam bentuk seperti kita menggunakna posisi sujud dalam shalat saja menyembah Allah sang Rabbul ‘alamin saja, namun ada bentuk-bentuk penyembahan lainnya. Dikatakan oleh Rasulullah saw, ,”Tidakkah mereka mengharamkan apa yang telah dihalalkan Allah, lalu kalian pun mengaharamkanya, dan tidakkah mereka itu menghalalkan apa yang diharamkan Allah, lalu kalian menghalalkannya?”, lalu sahabat Adi bin Hatim menjawab, “Ya”. Rasulullah lalu menclosing dengan mantap bahwa “itulah bentuk penyembahan kepada mereka”.

Kemudian, Apa maksud perkataan orang alim dan rahib-rahib menghalalkan yang haram dan mengharamkan yang halal?

 

ideologi pacaran dalam kaitannya menghalalkan yang haram

Kita temukan dalam agama nasrani, sesuatu yang sedari awal Allah sudah haramkan bagi mereka, namun para rahib ataupun orang-orang alim diantara mereka menghalalkannya atau yang sebaliknya. Contoh, masalah BABI, Allah melarang umat kristiani memakan BABI melalui nabinya Isa alaihi salam/ Yesus. Dalilnya ada pada Imamat pasal 11 ayat 7-8 yang berbunyi “Jangan makan babi. Binatang itu haram, karena walaupun kukunya terbelah, ia tidak memamah biak. Dagingnya tak boleh dimakan dan bangkainya pun tak boleh disentuh karena binatang itu haram.”

Larangan serupa juga tercantum di kitab Ulangan 14:8, Yesaya 65:2-4 dan Yesaya 66:17. Namun, apa yang terjadi? Orang-orang kristen sekarang memakan babi. Apa dalil yang mereka pakai? Dalil yang mereka pakai adalah perkataan orang alim diantara mereka bernama St. Paul bahwa segala makanan adalah suci (Roma 14:20). Mereka tinggalkan perkataan Yesus yang bersumber dari hukum Allah dan memilih hukum ‘baru’ karya St. Paul.

Padahal dalam kajian Tauhid, kita mengenal sifat rububiyah Allah Subhanahuwata’ala. Sifat rububiyah mengatakan bahwa Allah lah yang membuat syariat/hukum-hukum, termasuk hukum halal dan haram. Ketika Allah sudah mengatakan itu haram, haram ya haram, so, jangan dilakukan. Ketika itu halal, ya halal, ambil yang halal itu dengan penuh syukur kepadaNya. Jadi tidak seorangpun atau apapun yang layak boleh mengambil ‘hak prerogatif ketuhanan’ berupa penentuan halal dan haram kecuali hanya Allah subhanahu wata’ala semata.

Lalu apa kaitannya dengan ideologi pacaran? Kenapa saya katakan berganti tuhan? pembahasannya ada di sesi ideologi pacaran “Anda pacaran, Anda ganti tuhan [2]”. Klik aja link nya di bawah ini:


ideologi pacaran “Anda pacaran, Anda ganti tuhan [2]”

 

atau Baca juga: Putusin pacar tanpa rasa patah hati

————————-

Sumber inspirasi artikel ideologi pacaran:

—- http://obrolanislam.wordpress.com/2008/05/04/status-haramnya-daging-babi-dalam-bible/

— http://blog.re.or.id/taaruf-syari-solusi-pengganti-pacaran.htm

— http://wppi.wordpress.com/2008/08/28/pengertian-zina-hati-dan-mendekati-zina-lainnya/

—http://www.bahantarbiyyah.com/v1/albums/userpics/10001/syaikh%20ash-shabag%20-%20Larangan%20Khalwat%20dan%20Ikhtilath.pdf

— http://blog.re.or.id/larangan-bersalaman-dengan-laki-laki-yang-bukan-muhrim.htm

ideologi pacaran on blog