Urgensi Perencanaan Pensiun

Perencanaan Pensiun – Beberapa hari yang lalu saya menyengaja mengSMS salah seorang teman yang kebetulan berprofesi sebagai seorang PNS yang bekerja pada tataran operasional di suatu pusat layanan masyarakat. Saya menanyakan kepada pertanyaan bernada Perencanaan Pensiun nya yang kurang lebih, “Kamu sekarang bekerja pada lembaga yang kamu ada  dan suatu hari akan menempati jabatan tertinggi di area kerjamu, apa kamu yakin bahwa kamu suatu hari akan pensiun?”

Sekalipun pertanyaan itu kurang direspon secara baik, bisa jadi aku sms di waktu yang kurang tepat. Namun, di kesempatan ini aku akan sharekan sedikit  mengenai pensions yang bisa  jadi bermanfaaaat bagi anda yang memang benar-benar mau pensiun maupun bagi yang masih baru masuk pegawai negeri atau di tempat swasta. Karena jelas, secara umum yang namanya bekerja nanti ujung ujung-ujungnya paling dua saja, Anda mengundurkan diri atau anda dipecat dari pekerjaan yang sekarang masih anda geluti.

Sebelum bahas lebih banyak Perencanaan Pensiun , apa sih Definisi pensiun?

Dari atas saya mempertukarkan penggunaan istilah pensiun dengan pensions. Padahal aslinya sama. Baik, agar lebih jelas mari kita simak dulu saja definisi pensiun. Pensiun menurut parnes dan nessel yang dikutip oleh corsini pada bukunya The concise Encyclopedia of Psychology adalah suatu kondisi dimana individu tersebut telah berhenti bekerja pada suatu pekerjaan yang biasa dilakukan Parnes dan Nessel. Atau ringkasnya Corsini mengatakan pensiun adalah proses pemisahan seorang individu dari pekerjaannya, dimana dalam menjalankan perannya seseorang di gaji.

Urgensi Perencanaan Pensiun

Oleh sebab pensiun memberikan dampak pada banyak aspek kehidupan seperti pada beberapa banyak pensiunan mengalami kemunduran dalam hal finansial, kurangnya kontak sosial, kehilangan rutinitas kerja, sampai perubahan status. Sehingga pada beberapa pada beberapa kesempatan saya bertemu dengan beliau-beliau yang sudah pensiun dan menunjukkan beberapa opini:

  1. Alhamdulillah sudah pensiun bisa lebih santai
  2. Bapak setelah pensiun malah lebih sering marah-marah [post power syndrom kah?]
  3. merasa tidak menghasilkan apapun
  4. berasa kesepian anak-anak sudah pada pergi semua [bak sangkar kosong]
  5. kesempatan untuk lebih luas lagi mengexplorasi kesempatan dengan pemenuhan hobby serta bisnis plan
  6. asik bisa jalan-jalan bebas serta bebas finansial
Gambaran opini itu semua memang tidak sepenuhnya saya temukan tersurat dalam pembicaan-pembicaraan yang terjadi. Hanya saja ketika kita sudah saling berbicara saya yakin kita bisa menangkap esensi dari apa yang dirasakan oleh lawan bicara kita.

Perencanaan Pensiun salah bisa berakibat penyesalan di hari tua

Mengapa bisa terjadi, sama-sama pensiun hanya hasil efeknya berbeda satu sama lain? Bedanya dimana? Padahal biasanya dinamika psikologis  menghadapi pensiun satu orang dengan lainnya cenderung sama. Maksudnya, akan terjadi rasa penolakan, stress, sampai tahap penerimaan. Apakah perbedaanya ada pada kesadaran sejak awal bahwa suatu hari mereka akan pensiun maka mereka selain menabung buat moment pensiunnya juga menabung blueprint sukses pensiun? atau sebagian yang lain berprinsip parah yah ikuti saja dengan apa yang terjadi nanti ketika pensiun baru kita pikirkan bagaimananya.
Ada pepatah yang mengatakan “Fail to prepare is prepare to fail” sepertinya memang layak dijadikan bahan renungan. Kalau kita sadar bahwa sejak awal kita akan pensiun, maka dinamika psikologinya akan lebih bisa dinikmati. Blue print sukses Perencanaan Pensiun[pension plan] harus dibangun sejak awal mulai bekerja agar bisa lebih sukses dari kesuksesan tokoh pensiunan seperti Kolonel Sanders dengan Ayam Goreng McD-nya.

Ada Ide Berkaitan dengan Postingan di Atas?