Contoh Mindset Entrepreneur Sukses Pemilik Pesawat Lion Air Rusdi Kirana

Contoh Mindset Entrepreneur Sukses Pemilik Pesawat Lion Air Rusdi Kirana

Anjrahuniversity.com – Di timeline semua social media lagi ramai bab lion air. Di sini saya tidak mau ikutan mencaci, saya ikut belajar saja dari Contoh Mindset Entrepreneur Sukses Pemilik Pesawat Lion Air Rusdi Kirana dalam menghadapi resiko bisnisnya. Ilmu yang sangat keren yang kalau kita mau sukses, setidak mengenal konsep dahsyat yang menjadi mental set dirinya.

Kalau orang biasa, dia tidak akan mampu dan mungkin bisa meng-handle perusahaan sebenar lion air dengan ribuan karyawan dan besarnya perputaran uang yang harus di kelola.

Di sini saya tidak membahas Biografi Pemilik Maskapai Lion Air secara lengkap, siapa Pemilik Saham Lion Airlines, sampai urusan Apa agama pemilik lion air. Itu bahasan yang berbeda, media sendiri juga mengaminkan kemisteriusan Perjalanan Hidup Pemilik Lion Air dalam banyak sisinya.

Mindset Entrepreneur Sukses Rusdi Kirana Presdir Lion Grup

Yuk, Kita Pelajari saja Mindsetnya yang saya ambil dari beberapa liputan media online. Ya dari sesi wawancara wawancara padanya.

Pertama, Bagaimana mindset Pak Rusdi Kirana Pemilik Lion dalam menyikapi bisnisnya yang berbasis pelayanan:

Contoh Mindset Entrepreneur Sukses Pemilik Pesawat Lion Air Rusdi Kirana
Rusdi Kirana Pemilik Lion Air Group

“You can say I’m wrong, oke karena memang saya di pelayanan. Dalam layanan, saya tak mau debat agar orang itu mengatakan saya benar. Kamu mengatakan saya benar, setelah kamu merasakan produk saya.

Kalau kamu anggap produk saya tak benar, ya saya perbaiki. Tapi, kalau saya anggap produk saya sudah benar, it’s your choice. Kita tak bisa mencari alasan dari kegagalan kita. Yang kita lakukan adalah kita improve diri kita.” ..

Kedua, Mau Ambil Tanggung Jawab Tanpa Terlalu Luas mencari kambing hitam untuk Masalah yang dihadapinya

Mungkin orang marah karena mereka terpengaruh oleh berita-berita itu, seakan-akan kita ini tak punya nurani. Kita tak salahkan mereka. Kita tak peduli ini pelayanan lagi ada masalah. Yang kita mau adalah giving good service. Saya juga tak salahkan infrastruktur. Saya juga tak mau hipokrit.

Yang membuat saya lebih kuat dalam hidup, saya berdoa. Tuhan, terima kasih saya masih ada kesehatan dan rezeki.

Waktu saya berdoa, saya membayangkan zaman saya waktu susah. Saya membayangkan kalau saya tak punya apa-apa. Di situ, saya merasa encouraged. Tak usah berpikir hal-hal yang membuat kita jadi dis-couraged.

Ketiga, Harus dengan jiwa besar memimpin sebuah perusahaan besar dengan visi yang kuat

“Selama 13 tahun, saya “kacamata kuda”, seperti tiga patung monyet yang ada di Jerman: tutup mata, tutup mulut, tutup telinga. Kalau saya ikuti semua, saya akan down. Waktu kejadian di Bali (pesawat B737-900ER-nya “mendarat” di laut), semua TV saya matikan, koran saya buang, supaya saya tak goncang. Saya mau fokus pada kerjaan saya. Kalau diikuti, saya akan discouraged.

Itu tak perlu didebatkan. Yang menjustifikasi kita benar atau salah, it’s not us. Sudah terjadi, kita perbaiki, kita improve, kita tahu ada yang ‘bermain’. Kita panggil direktur saya. Kita buat SOP. Jadi, how to lead a company? We have to be strong, we have to be the strength.

Kalau saya bilang, nuts-lah. Supaya saya tak jadi gila, saya berdoa. Yang saya ucapkan, saya terima kasih. Dengan itu, kita hidup lebih bahagia. Sepuluh tahun lalu, saya bertanya-tanya kepada Tuhan kenapa teman-teman saya mau minta tolong kepada saya? Ternyata, itulah yang membuat kita jadi leader. Tidak berkeluh kesah, tidak meminta, tetapi memikirkan orang lain”

Ke Empat, Selalu positif. Musibah adalah batu ujian agar membuat mata pisau selalu tajam

I don’t want to argue, tapi I want to prove it. Kita harus bisa menyimak. Tidak mungkin pisau akan tajam kalau tidak diasah. Tidak mungkin kita pengusaha akan ulet kalau semua lancar.

Kita learn by mistake, learn semua dari tempaan. Dalam hidup ini, kita harus bersyukur, kerja yang baik, berkreativitas, berpikir beyond, out of the box, dan berusaha melupakan orang yang membuat kita susah.

Ke Lima, PD Dengan Bisnis Sendiri karena yakin Kita punya VALUE yang Kuat
Ia pun cerita sewaktu diminta bicara di Washington University untuk program MBA-nya karena salah seorang anaknya sekolah di sana.

“Saya ditanya, di-compare dengan airlines di Amerika, Lion Air seperti yang mana? Saya bilang, tak ada. Airlines saya adalah yang terburuk di dunia. My airlines is the worst in the world, but you have no choice. Makanya, ada yang bilang, Lion Air dibenci, tapi dirindu,” tuturnya

Sungguh Salut aku pak padamu… aku harus belajar banyak padamu. Kadang kita sebagai pemilik OLSHOP kecil kecilan saja sudah mengkeret mentalnya ketika bertemu dengan komplain yang diajukan oleh customer. Kebayang, bagaimana sosok pemilik pesawat yang demikian banyak dengan market share sampai 40 % di tanah air. Yuk ah, ambil sisi positifnya. :)

Apa Komentarmu tentang Bahasan di Atas?

Your email address will not be published. Required fields are marked *